Hallo gags.. Kali ini aku akan berbagi ceritaku semasa SMP tepatnya
kelas 9. Asal usul nama “Si Lupis”. Ini adalah kisah nyataku, penuh tawa,
canda, tanpa beban yang berat. Selamat membaca, semoga bermanfaat dan dapat
menghibur..
Libur semester telah usai.
Pada pengambilan raport kemarin, tepatnya saat aku masih duduk di
bangku kelas 8 yaitu 8F. Semster pertama aku mendapat peringkat 3 besar, semester
kedua juga mendapat peringkat 3besar, dikelas ya bukan paralel sekolah. Kalo
paralel, belum masuk 3 besar jadi kurang tau, hehehe.
Aku menimba ilmu di salah satu sekolah favorit di Kebumen, yakni SMP
Negeri 5 Kebumen. Sekolah bersetatus “negeri” terkecil dan tersempit di Kebumen
(luasnya maksudnya). Panas, jumlah pohon
bisa dihitung tak ada 10. Lapangan saja hanya 1. Lapangan serbaguna, untuk
upacara, olahraga, aula, semua acara berpusat di lapangan, haha. Jika ada
jadwal olahraga yang sama dibagi-bagi, ada yang di lapangan dan alun-alun. Lain
hal dengan kondisi fisik sekolah. Sekolahku masih menerapkan sistem kelas
unggulan sampai saat ini. Peringkat 36 besar masuk kelas favorit atau unggulan.
Aku berasal dari kelas bukan unggulan, kelas 8F, kelas favorit 8B. Tak perlu sedih, aku tetap bahagia di kelas
biasa. OK tentang sekolah cukup.
Pengumuman pembagian kelas.
Hari minggu, tepat hari sebelum mulai masuk tahun pelajaran baru.
Jadwal pembagian kelas telah dipajang di depan kelas masing-masing. Aku
berangkat ke sekolah sekitar jam 10, tak wajib berangkat. Sampai di sana, sudah
banyak temanku yang sedang duduk-duduk di depan kelas. Mereka sudah tau masuk
kelas apa. Aku menghampiri dan
berbincang sebentar.
“Wihh Asih masuk 9C lohh, ciyee” ungkap seorang temanku.
“Halah, bercanda mulu, ya gak mungkin lah. Pada masuk kelas mana,
siapa yang sekelas nih?” tanyaku.
Mereka terus mentertawakanku, hmm. Aku mulai melihat ke depan kelas
di mulai dari 9D. Karena kelas ABCD dilantai 1, dan kelas EF di lantai 2. Kelas
D terletak di ujung timur dekat gerbang belakang, sedangkan kelas A terletak
dibawah tangga. Tak ada namaku di kelas D. Aku menuju kelas B, kulewati kelas C
karena tak mungkin. Tak ada namaku juga dikelas B, begitupun AEF. Aku mulai
mengulangi keliling kelas, kupikir aku tadi salah liat. Di tangga, aku bertemu
teman kelas 8F.
“Sih ngapain ke atas? Kita gak sekelas.. Hmm..” tanya temanku, Irma.
“Kamu kelas apa ? Aku belum tau, gak ada namaku.” Jawabku dengan
kesal karena gak ada namaku.
“Kamu kan 9C, ciyee kelas favorit.. Aku tetanggamu, kelas 9B” ungkap
Irma dengan ceria.
“Halaah gak mungkin lah. Nela aja yang peringkat 1 gak masuk 9C
malah 9E. Masa iya aku 9C, ngawur, haha”
“ngeyell.. sini ikut aku!” kesalnya.
Irma menarik tanganku, membawaku ke depan kelas C. Benar. Ada namaku
di kertas itu. Aku kaget, kok bisa yah? Kenapa temanku yang peringkat 1 malah
gak masuk kelas ini ? Hmm, aneh. Dan lebih anehnya, hanya aku yang satu-satunya
dari kelas 8F yang masuk kelas 9C. 70% berasal dari kelas unggulan 8B, ya
jelaslah. Aku benar-benar harus bisa beradaptasi besok. Aku belum pernah di
kelas unggulan, letak kelaskupun selalu berjauhan dulu. 7E favorit 7B, 8F
favorit 8B, haha. Kenal si kenal, tapi tak sedekat dengan teman kelas yang
lebih deket. Yaa sekarang aku benar-benar resmi jadi siswa 9C. Haha.
Hari pertama masuk kelas tahun ajaran baru.
Aku sudah berada di depan kelas. Kulihat beberapa kursi telah
terisi, hampir penuh. Yaa karena aku berangkat selalu siang, jam 7 kurang baru
sampai, hehe. Aku tak berani masuk, aku juga tak tau harus duduk dengan siapa.
Aku tak janjian sebelumnya, tak seperti teman-temanku, sudah ribut memilih
teman sebangku. Dari dalam kelas, seseorang memanggilku dan menghampiriku.
“Asih, sini masukk..” aku ditarik oleh seorang siswi, sahabat baiku
di ekstra Mading.
“Aaah, udah penuh yah kursinya?” jawabku agak sedih.
Tersisa 2 meja yang kosong, paling belakang. Hari pertama masuk
saja, aku sudah melihat perbedaan adat budaya antara kelas unggulan dan kelas
biasa. Saat aku kelas 7 dan 8, aku paling sering dan hampir tiap hari duduk di
kursi paling depan atau nomer dua. Karena aku selalu berangkat paling siang,
jadi yang tersisa meja paling depan, haha. Itu karena aku berangkat menggunakan
sepeda dan jaraknya 8km dari rumah. (Bayangkan jauh kan? Alesan ajaa si, wkwk).
Dulu teman-temanku selalu duduk-duduk di depan kelas sampai bel masuk. Saat ini
terlihat sangat kontras, meja yang tersisa paling belakang. Siswanya ngumpul
semua di dalam kelas.
Akhirnya aku duduk di paling belakang, sendirian. Aku merasa seperti
sendiri dalam keramaian. Aku menghampiri gerombolan siswi yang sedang asyik
bercerita, mereka semua berasal dari kelas unggulann sebelumnya, jadi tidak
terlalu dekat dengan mereka.
“Hai boleh gabung nggak, namaku Asih dari 8F” sapaku dengan ramah.
“Oke sini sini..” ungkap salah satu dari mereka.
Akhirnya aku ikut berbincang-bincang dengan mereka. Walaupun aku
belum banyak bicara, hanya mendengar dan ikut tertawa saja. Saat guru masuk,
aku kembali ke tempat duduk. Kulihat ada tas warna hitam di samping kursiku,
tak ada yang menempati. Aku duduk. Tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingku,
dan dia adalah seorang laki-laki. Aku sempat kaget. Ternyata jumlah
laki-lakinya ganjil dan perempuanya genap. Ada 1 perempuan yang tidak berangkat
saat itu, dikarenakan sakit. Hari berikutnya aku duduk sebangku dengan Neni
Hoeti, yang sekrang bersekolah di SMK N 1 Kebumen.
Beberapa hari beradaptasi.
Aku orangnya suka ngomong, kata kasarnya aku itu “ceriwis”, lebih
tepatnya komunikatif. Aku tak suka diam sendiri duduk melamun tak jelas. Kata
temanku aku itu suka nglawak atau ketawa mulu. Iyaa si, soalnya kalo ketawa
bikin bahagia gak stres berpikir, tapi kalo serius juga serius kok, gak bangett
tapi, hehe.
Awalnya di kelas aku berasa seperti orang asing. Lama-kelamaan
ternyata anak-anaknya itu asik-asik buat bercanda, gak terlalu tegang saat
belajar seperti yang kupikirkan sebelumnya. Aku paling suka diskusi IPS, karena
aku paling suka debat dan tanya, dapat poin nilai soalnya. Aku juga dekat
dengan semua anak di kelas tersebut. Bahkan anak yang paling pendiemm di kelas,
padahal dari dulu dia di kelas nggulan harusnya enak temanya sama. Namun, dia
diem di kelas, jarang berbicara, akupun bisa dekat dengannya. Awalnya aku suka
menggodanya, mengajaknya tertawa, lama-kelamaan dia bahkan curhat pribadi ke
aku. Namanya Eni, hobinya membaca dan menulis cerpen, kata-katanya sangat
puitis. Aku orangnya tidak suka gabung ke grup-grup atau bisa disebut geng
kelas. Di kelas itu terbagi 2 kelompok, anak-anak yang suka ketawa ketiwi di
kelas sama mbahas K-POP, terus anak-anak yang suka nggrombol tapi diem-diem
aliasnya kalem-kalem. Akupun kadang gabung sana sini, asal enjoy aja pikirku.
Facebook. Saat itu heboh sekali orang menggunakan facebook. Hampir
semua siswa menggunakan facebook, budaya dulu malah banyak-banyakan yang
ng-like. Terkenalnya dulu BOM LIKE. Seperti umumnya, aku juga terbawa arus
menjadi pengguna facebook. Aku membuat akun kelas VII, aktif facebook tepatnya
dari kelas IX. Aku juga pemuja BOM LIKE
dulu, sama. Haha. Dulu itu tak seperti sekarang. Dulu itu terkenal dengan “Masa
Alay”. Sms, update status, nama, nulis di medsos semua menggunakan bahasa
buatan sendiri, mengedit sendiri. 99% siswa-siswi tingkat SMP/SMA saat itu
pengguna masa alay. Termasuk Aku, ku akui. Aku bahkan mengedit namaku agar
trend sperti teman-temanku. Contohnya, “Aziich Nax Spenma Boement, Aziich
Chuaby, Khoernhiazich Sweetgirlz, Aziich Lophz’Piece”. Itu beberapa nama yang
pernah aku ganti, sekarang sudah nonaktif
akun itu. Aku aktif facebook karena temanku hampir semua siswa di kelas
setiap hari online facebook. Aku juga mulai meng-upload foto-fotoku di
facebook.
Pelajaran kosong.. Idaman anak pemalas.
Saat itu ntah kenapa tak seperti biasanya. Di kelas ini jika ada jam
kosong, semua murid pasti belajar. Namun kali ini lain, siswi-siwi malah
bergrombol membahas K-POP. Yang sebenernya aku itu tidak suka sama sekali,
hehe. Sedangkan para siswa, sibuk bermain-main di kelas. Saat kami semua asyik
sedang berbincang-bincang melihat-lihat tentang K-POP di facebook, temanku
seorang laki-laki mendekat dan duduk bermain facebook juga. Namanya Benedictus
Unggul Kristianto. Dia adalah laki-laki yang lucu, gendut, modis, sekolahnya
udah pake motor (padahal dilarang), gak pernah ngumpul sama cowo, selalu ikut
bercerita dan berkumpul dengan cewe. Bahkan olahragapun, tapi anaknya asik
walaupun sering diejek temannya yang cowo di kelas, dia gak pernah marah bahkan
ketawa.
“Eh eh eh, Asih aktif facebook lohh.. Upload foto juga nih..”
tiba-tiba dia maju di depan kelas dan menujukan hapenya.
“Ihhhh ngarang, jangan gosip tus..” jawabku kesal.
“Mana-mana, namane apa? Huww Asih gak mau ng-add sombong..” ungkap
seorang temanku.
“Apalah orang baru aktif kok yaa ntar tek add lah.” Jawabku malu dan
kesal.
Seketika yang tadinya mbahas K-POP berganti mbahas Facebook ku. Aku
sangat kesal. Lari ke sana-sini lagi pada mbuka profilku semua, cowo maupun
cewe. Karena sudah terlanjur pada tau, akhirnya aku tertawa saja, biar pada tau
sekalian, haha.
“Aziich Lophz’piece ciyeee..” ungkap sahabatku.
“Yaa ben, bagus kan, cinta damai..” jawabku enjoy.
“Asih Lupis” ungkap seorang penggemar berat K-POP.
“Salaah mbacanya woy, Asih Love Piece” kesalku.
“Lupis yaa kaya makanan pasar, haha” ungkap lainya.
“Lupis makanan ? Apa sii ?” tanyaku heran.
Selama pelajaran kosong, semua siswa gak laki-laki gak perempuan,
membahas Lupis, gara-gara aku. Aku emaang tak tau yang namanya Lupis. Rumahku
memang di desa, tapi aku tak tau lupis. Sedangkan, teman-temanku yang di kelas
semua tau, hanya aku yang tak tau. Aku bener-bener jadi artis saat itu, jadi
pusat perhatian di kelas, karena hanya aku yang tau makanan bernama lupis. Aku
orangnya emang suka bicara, jadi aku nanya dan protes terus. Saking gemesnya
temenku sama aku, 3 orang membuka google di laptop dan hapenya. Mencari gambar
lupis dan memperlihatkannya kepadaku. Namun, aku juga masih tak tau. Semua
siswa mentertawakanku habis-habisan bukanya belajar seperti biasa. Haha.
“Ihh aku baru liat, rasanya apa ? terbuat dari apa ? dijual dimana?”
tanyaku seperti kreta. Semua siswa yaa masih ngliatin aku sambil ketawa,
padahal bisa dibilang aku seperti anak baru di kelas ini.
“Aaaaa.. Apa perlu aku besok pagi berangkat ke pasar beli lupis
dulu?” gemes temanku sambil nyubit pipiku.
“Perlu bangetttt, aku nitip deh, haha” candaku.
“Yaa basi lah sampe istirahat, hhh tanya ibumu mesti tau laah, kalo
gak kebangetan.” Temanku mulai gemes tingkat dewa.
Bel berbunyi. Waktunya pulang sekolah. Saking polosnya dan keponya,
aku menanyakan kepada Ibuku. Ibuku ternyata tau, namun aku masih belum tau. Aku
meminta dibelikan saat ke pasar besok hari minggu.
Esoknya aku berangkat seperti biasanya. Aku masih belum tau makanan
lupis. Jam pelajaran TIK kosong, di lab bisa internetan selama 2 jam. Saat yang
lain kumpul searching K-POP aku menyendiri. Aku mencari gambar lupis sebanyak-banyaknya.
Yang muncul berwarna-warni, berbeda bentuk, kalo kata temenku bentuknya bulat
warna ijo, tapi tak ada. Tanpa sepengetahuanku, dari belakang ada temanku
namanya Deni. Dia melihatku sedang serching tentang lupis. Dia langsung
memberitahukan semua siswa di lab tersebut. Langsung deh fans K-POP mendekat
semua. Mentertawakanku dan bercanda semua.
“Astaghfirulloh.. Searching Lupis di Internet, haha.” Ungkap
temanku.
“Laah yaa ben laah, kan belum tau” jawabku santai.
“Hahaha, sabaar yaa Pis. Besok beli Lupis pake uang kas kelas khusus
buat kamu. Asih Lupis, Lupis lupis, hahaha.” Ungkap salah satu dari mereka.
“Ihhh apa siih, kok malah lupis, tenang Hari Minggu besok aku
dibeliin lupis, wleee.” kesalku.
“Salah siapa Cuma kamu yang gak tau, nama akunmu juga lupis yaudah
cocok.” Ungkapnya.
“Pengumuman, hari ini resmi Kurniasih itu dipanggil Lupis, sekian
terimakasih.” Ungkap seorang cowo di depan lab.
Sejak saat itu semua murid perempuan di kelas memanggilku dengan
sebutan Lupis. Sebagian cowo yang suka bercanda denganku juga memanggil Lupis.
Lama-kelamaan anak-anak cowo yang kalem dan gak pernah bercanda, memanggilku
dengan Lupis juga. Kesal sekali, tapi yasudahlah sudah terlanjur memanggil
semua.
Lama kelamaan nama lupis mulai merambah selain teman kelasku, kini
mulai ke guru. Temenku jail semua. Mulai dari guru Bahasa Indonesia yang
cantik, guru IPS wali kelas, sampe guru biologi wakil kepala sekolah,
memanggilku Lupis.
Saat pelajaran Bahasa Indonesia.
“Mmm, sampingnya Kurniasih siapa namanya, maju kerjakan no.5”
perintah Bu Uut, guru bahasa Indonesia.
“Lupisss buu” kompak sekali semua anak menjawab begitu.
“Maksudnya?? Lupis apa?” tanyanya heran.
“Namanya Lupis bu, bukan Kurniasih.” Jawab seseorang.
“Kok lupis? Dari mana itu jandd kalian. Yaudah Lupis, kamu yang
maju.” Perintahnya sambil mesem gak bisa menahan tawa.
“Laaah Bu..” akupun maju dan menulis jawaban di papan.
“Eh lupis itu apa si ?” tanya guruku ke temanku.
“Bu guru gak tau lupis ? Yes, wleee ada temene hayohh..” aku
langsung menyahut dan bersalaman, nglawak, haha.
“Jajanan pasar Bu.. Tau kan? Mesti tau lah.” Ungkap ngotot temanku.
“Ouhh iyaa tau tau” jawabnya sambil ketawa. Sebenaranya mungkin tak
tau.
“aaaaaa hahahaha” ketawa satu kelas. Ditertawakan deh aku di depan
kelas waktu itu.
Saat pelajaran Biologi.
“Kurniasih? Maju jelasnkan bagian ini.” Perintah pak jaenal.
“Lupiss paak” lagi lagi temanku protes.
“Jangan ikuti aliran sesat mereka pak, hehe.” Ngototku.
“Lupis opo tohh? Jajan ?” tanyanya laga sok heran namun bikin
ketawa. Hanya Pak Jaenal, guru favorit Biolgi.
“Sipp pak, hahaa kasiaan lupis gak ada balanya.” Ditertawakan lagi.
“Pak bilang gak tau kek, masa saya di panggil lupis terus.” Candaku
mengadu manja.
“Kamu gak tau lupis ndoo? Wong deso yaa, hahah.” Ungkapnya penuh
ketawa.
“Paak laaah...”
“Udah jelasin Lupis itu apaa.. wkwkwk”
Seminggu pertama aku dipermalukan guru deh. Diketawain. Tapi gapapa,
toh namanya gak mengandung unsur jorok. Malah aku semakin di kenal di kalangan
guru. Walaupun kadang kalo ke kantor malu dipanggil lupis, hehehe.
Saat ulang tahun sekolah diadakan lomba-lomba antar kelas. Aku
mewakili kelas lomba buat puisi, gambar karikatur, futsal, sama voli. Nggak
percaya? Cek ajaa. Aku paling suka olahraga futsal, voli, sama lari. Sedangkan
seni aku paling suka nggambar. Aku sebenernya tak suka puisi. Namun temanku
menunjuku gara-gara dia pernah membaca banyak puisi di binderku, haha.
Lomba futsal dimulai. Kelasku melawan kelas 9D. Kelas jagonya
anak-anak futsal, semuanya ekstra futsal. Sedangkan dikelasku yang ekstra
futsal hanya aku dan temanku, 2 orang. Minder jelas, namun aku tetap berusaha.
Kesalnya semua teman kelasku meneriakanku “Lupis lupis lupis lupis lupis”.
Bahkan kelas yang terkenal kalemnya, saat mendukung main futsal mengalahkan suporter
kelas paling brisik, 9D. Ratusan siswa yang menonton pun tau. Dari kelas VII
sampai kelas IX. Hasilnya seri, 2-2. Lalu diadakan tendangan pinalti.
Satu persatu berganti menendang. Saat aku menendang, kelasku
langsung berteriakk. “Lupiisss bisa, lupis gol, lupis bisa, lupis gol.” Jadi
semua orag kini tau siapa yang dipanggil lupis, iyalah aku. Aku tak
memikirkannya saat itu, hasilnya GOL. Kami mengungguli kelas andalan futsal, 9D.
Namun itu hanya babak penyisihan saja. Hahaha. Akibatnya, semua 1 sekolah kini
memanggilku LUPIS. Yaa tak apalaah, aku terima saja.
Sejak saat-saat itu aku selalu dipanggil “Lupis”. Saat jalan ke
kantor, kantin, jalan depan kelas, ke perpus, pulang, jika bertemu entah teman,
adik kelas, semua memanggilku dengan sebutan “Lupis”. Positifnya semakin banyak
yang mengenalku, negatfnya sayang yang terkenal bukan nama asli, tapi toh juga
tau si Kurniasih itu Lupis. Haha.
Itu adalah kenangan semasa aku menginjakan di kelas 9C bersama
teman-teman solidku yang ceria, hebat, asyik, nyaman, dan kompak. Aku tak
pernah lupa kenangan kenangan kita semasa SMP kelas 9. Aku kangen sama kalian
guys.. Kini kalian berada di SMA yang berbeda-beda. Hanya reuni yang mungkin mengumpulkan
kita kembali disela kesibukan kita.. “Crazy Nine Spenma Boement” i miss you..
Sebenernya ada banyak foto kebersamaan kami dulu, namun hilang
disebuah flashdisk. Ini hanya 2 foto yang berkaitan ceritaku. Terimakasih.
Semoga tidak menyesal membaca yaa.. hehee. Byee guys.. Sampai berjumpa di
catatan berikutnya..
Ini foto di ijazah SMP, wkwkwk.
![]() |
| Foto ijazah |
Bukti nyata, betapa alanya waktu SMP dulu, wkwkwkwk :D
![]() |
| Screenshot Facebook |
Jangan lupa juga baca kisah nyataku lainnya : http://kurniasih-mujersiti.blogspot.co.id/2015/08/permen-ting-ting-itu-tak-datang-lagi.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar