Hallo gags.. Jumpa lagi sama catatan aku..
Kali ini aku mau sedikit serius nih.. soalnya ini cerita menyedihkan,hikshiks..
Kalo kalian semua liat judul permen ting-ting, tapi aku bilang sedih pasti gak
bisa nebak tuh ? wkwkw. Jangan ketawa. Iya aku kehilangan permen ting-ting.
Permen favoritku semasa kecil sampe sekarang. Aku menyebut itu permen kenangan
paling indah, enaak, nikmat, pokoknya aku sangat menyukai permen Ting-Ting. Oke
simak aja catatan ceritanya.. Cuuusss...
Soal nama sama tempat tinggal udah gak perlu
bilang lagi yah. Gak penting dan kalian udah tau pastinya. (yang belum tau,
selamat kepo deh). Aku anak terakhir, perempuan sendiri. Aku mempunyai 3 kakak
laki-laki yang ganteng-ganteng (read : relatif). Kali ini aku mau nyritain
keluargaku. Ibuku yang paling cantik,
namanya Siti Fatonah. Ayahku yang paling tampan sedunia, namanya Mujer.
(Relatif). Kakakku yang tampan-tampan namanya, pertama namanya Muhammad
Maksudi, yang kedua Kusnadi, yang ketiga Akhmad Ali Subekti. Jarak kelahirannya
cukup cantik, aku sama kakakku yang ketiga (Ali) jaraknya 3 tahun. Terus
kakakku yang pertama dan kedua jaraknya juga 3 tahun. Tapi kakakku yang kedua
sama ketiga jaraknya lumayan jauh, 8tahun .
Ibuku seorang penjahit kecil-kecilan dan
seorang Ibu Rumah Tangga. Ibuku mengambil bahan ke bosnya, terus dijahit
dirumah. Ibuku menjahit clana. Dulu sewaktu aku belum sekolah dan masih kelas 1
atau 2 SD, 1 clana dikasih upah 700 rupiah. Sekarang ini udah naik, 1 clana
bisa 1400 sampe 2200, tergantung motif clananya.
Ayahku bekerja di kota paling sadis di
Indonesia, Jakarta. Ayahku bekerja sebagai sopir bajai. Yaa sopir bajai yang
ganteng, haha. Penghasilannya pun gak tetap, namanya sopir yaa tergantung
pelanggan. Kalo rame yaa alhamdulillah, kalo nggak yaa terus berusaha. Ayahku
tinggal di sebuah kontrakan kecil yang kumuh. Ouh yaa adeknya Ayahku (perempuan) juga tinggal di Jakarta, suaminya
orang sana. Terus adeknya ayahku yang paling bungsu (Paman Darso) juga merantau di Jakarta. Jadi
ayahku punya saudara dan gak sendirian merantau di kota sadis itu. Tapi Ayahku
mandiri kok, kontrak sendiri. Hehehe.
Namanya juga perantauan pulangnya bisa
diitung setahun berapa kali. Kalo lama yaa bisa setahun 1 kali, kalo cepet yaa
mungkin 2 bulan sekali tapi jarang. Tiap bulan, Ayah pasti selalu ngirimin satu
kardus, dipaketin lewat kurir barang tetangga desaku. Aku masih inget banget
isinya apa aja. (Mie Instan, Susu Kaleng 3, Permen Ting-Ting) . Kirimnya pasti
selalu hari Senin, selalu dan selalu. Kadang pulang sekolah Ibuku udah mbuka,
tapi seringnya Aku yang buka. Aku pernah marah sama Ibuku karena udah mbuka
duluan, sampai Aku nangis waktu itu, hehee. Aku pengin banget yang mbuka kardus
itu, saking seneng dan penasaran isinya. Sejak Aku nangis waktu itu, Aku yang
selalu mbuka kardus –kardus selanjutnya, wkwk. Yeeaay.
Liburan semester Ayahku pulang.. Yeeeyy..
Liburan semester 1 tiba. Saat itu Aku masih duduk
di kelas 3 SD. Tiba-tiba jam 4 pagi terdengar ketukan pintu. Ibuku membuka
pintu, dan ternyata Ayah pulang. Aku langsung bangun dan ke ruang tamu. Aku langsung
meluk Ayah, begitupun sebaliknya. Aku inget banget, yang kutanyakan saat itu
adalah oleh-oleh. Yaa namanya juga masih kelas 3 SD, jaman dulu lagi, polos. Aku
mbongkar tas Ayah dan kardus yang dibawa. Isinya seperti biasa Susu kaleng,
Mie, Permen Ting-Ting dan baju baru. Dulu
Aku jarang banget dibeliin baju loh, setahun 1 kali mungkin. Aku sangat suka menyimpan
Permen Ting-Ting kiriman Ayah. Di warung belum ada yang menjualnya. Karena
dikirimin 2 bungkus, Aku langsung menyimpan 1 bungkus di lemari Ibu. Karena gak mau dimakan kakakku,
pokoknya khusus buat Aku 1 bungkus itu. Dan yang 1 bungkus buat bareng-bareng.
Yaa bisa disimpulkan Aku dulu pelit banget yang namanya berbagi Permen
Ting-Ting sama kakak Aku , hahaha. Tapi Aku gak pelit sama temen-temenku, Aku
sering bawa ke sekolah permen Ting-Ting, terus Aku bagikann sama temen-temenku.
Wkwkw.
Beberapa hari kemudian..
Ternyata Ayah
pulang hanya untuk menjemput sepupuku untuk liburan ke Jakarta karena di
suruh Pamanku. Ayahku mau berangkat sama sepupuku yang masih belum sekolah
alias TK. Aku tanya ke Ibu : “Bu, Ayah
mau ke Jakarta sama Eko (sepupu aku) ?”. Ibuku menjawab halus, “Iya,
disuruh Paman. Paman pengin ngajak Eko
liburan di Jakarta”. Aku merengek sama Ibu minta ikut. Ibuku tak mengijinkan.
Ayah juga tak mengijinkan. Sejak saat itu, Aku selalu murung di kasur. (dulu Aku
masih 1 kasur sama Ibuku, belum punya kamar sendiri). Aku nangis sendiri. Setiap kali ditanya sama
Ayah dan Ibu, Aku selalu diem dan nangis pelan. Aku sangat ingi ikut ke Jakarta.
Tiba pada suatu hari, paginya ayah Aku beli
tiket ke Terminal. 2 Tiket. Yaa Cuma 2 tiket. Aku semakin menjadi-jadi. Aku
semakin menangis keras. 3 hari Aku selalu nangis. Aku liat Ayahku berkemas membawa
makanan-makanan (lanting : makanan khas Kebumen). Hari itu dari pagi Aku terus menangis
keras, tapi Aku ditanya tetep tak mau menjawab. Yaa walaupun Ayah sama Ibu udah
bisa nebak tuh kenapa Aku nangis. Karena pernah bilang “Pengin ikut apa?”. Tapi
waktu itu Aku tetep nangis dan tak menjawab.
Jam sudah menunjukan jam 3 sore..Artinya
Ayahku sebentar lagi berangkat. Aku
semakin menangis keras. Ayahku duduk di sampingku. Bertanya kenapa nangis terus,
karena sebentar lagi beliau mau berangkat. Aku tak menjawab dan makin
tersedu-sedu menangis. Bayangin saja menangis dari pagi sampe sore, haha.
Tiba-tiba Ayah bilang, “mau ikut apa, yuh ?”. Aku pun masih menangis. “Kalo iya
ayoh mandi, bawa baju, ntar keburu berangkat”. Aku pun terdiam dari tangisanku,
“boleh apa?”. Yaa akhirnya Aku ikut. Aku langsung mandi, Ibuku menyiapkan
bajuku. Aku sampai saat ini tak tau alesanya apa kenapa dibolehin. Mungkin Ayah
sama Ibu udah tau kenapa Aku menangis terus, hahaha.
Jam 5 sore Aku berangkat sama Eko, dan Ayah. Aku
naik Bus, ber-AC, jaman dulu mungkin bisa dikatakan Bis Eksekutif. Aku naik bus
jam setengah 7 sore. Kita duduk bertiga, Aku ditengah. Aku bener-bener
kedinginan. Aku baru sekali naik bus ber AC, wkwk. Sebelumnya pernah naik bus
sama Ibuku tapi gak ber AC. Eko udah pake jaket, sementara Aku hanya memakai baju ¾. Bisa dibayangin tuh gimana dinginya. Karena berangkat
buru-buru , Aku pun tak membawa jaket. Ayah mbuka tas yang disiapin Ibuku,
ternyata ada jarit warna ungu (read : selendang). Aku akhirnya dipakain jarit
tuh sama Ayah, Aku semalaman tidur di pelukan Ayah tercinta, hehehe.
Jam 5 pagi Aku sampai di kota sadis, Jakarta.
Aku menyelusup jalan masuk gang-gang
kecil menuju kontrakan Ayah . Aku shock. Masa di depan kontrakan Ayah ku banjir
sampe lutut, padahal 10meter keluar tuh kering tak ada apa-apa. Kata Ayah,
katanya hanya sehabis hujan aja kalo banjir begini. Aku pun kaget. Aku masuk
tuh kontrakan Ayah, ternyata isinya tak hanya Ayah, tapi ada 2 orang temen
Ayah. Bangunan kecil itu yang hanya 3 meter persegi, dibuat 3lantai. Lantai
kedua adalah tempat tidur Ayah. Karena kelelahan dan kedinginan, Aku pun
langsung tidur terlelap.
Matahari sudah terlihat jelas. Akupun bangun,
mandi dan langsung makan. Lalu kami pergi ke tempat kontrakan Paman mengantarkan Eko. Kami naik Bajai
berwarna oren. Sesampai di rumah Paman,
beberapa jam setelah itu Aku dan Ayah langsung pergi. Ternyata ke tempat Bajai,
Ayah kerja. Ayahku ijin sehari buat gak narik. Terus kami kerumah Bu Dhe. Aku
dititipin di sana selama Ayah narik bajai besok.
Hari demi hari berjalan di Kota Jakarta..
Setiap malam hari Ayah selalu main ke rumah
Bu Dhe, walau hanya beberapa jam menjenguku dan membelikakanku jajanan kecil,
seperti martabak. Tapi aku sudah merasa senang. Pada suatu hari, tak seperti
biasanya. Ayah main ke rumah Bu Dhe jam 3 sore sama kakak-kakakku juga. Terus
Eko dan Paman juga main ke situ. Ternyata hari ini mau jalan-jalan. Yeey Aku seneng banget . Aku naik bajai sama
Ayah dan kakak-kakakku. Yang lain naik bajai juga. Kami jalan-jalan ke PRJ atau
Pekan Raya Jakarta(sekarang namanya udah ganti, Aku lupa). Disana Aku mainan komedi putar,
mobil-mobilan, kuda-kudaan, membeli baju, tas dan mainan. Aku dibelikan tas
Dora warna Biru muda sama Ayah. Aku juga dibelikan mainan buat Aku sama sepupu
yang lain di kampung. Aku seneng banget mainan sampai muter-muter, Aku kelelahan
dan mabuk perjalanan, hehe. Pulangnya jam 11 malam, Aku tertidur di bajai.
Waktu sudah hampir 2 minggu, artinya bentar
lagi masuk sekolah. Aku pun pulang ke Kebumen sama Eko dan Ayah. Tak lama Ayah
kembali ke Jakarta dan mulai melakukan aktifitas bekerja seperti biasanya. Aku
pun melanjutkan kegiatan belajar di kelas 3. Alhamdulillah Aku masuk 3 besar di
dua semester.
Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke
tahun..
Sekarang aku sudah kelas 4 SD..
Bulan Ramadhan telah tiba. Kegiatan
sekolahpun tetap berjalan. Aku berbuka puasa dengan Ibu dan kakak aku (Ali)
setiap hari. Ayah masih tetap bekerja, kakak-kakakku yang lain juga masih
bekerja.
Berita itu datang..
Saat itu aku sedang berada di sekolah. Waktu
itu, pulang sekolah belum menggunakan bel kecuali masuk pagi. Kelas 1, 2, 3 dan
kelas 5 sudah pulang. Hanya tinggal kelas 4 dan kelas 6. Setiap pulang sekolah,
pasti selalu ada kuis, setiap yang menjawab terlebih dahulu, langsung keluar
lebih dulu. Aku berhasil menjawab no.3, dan langsung keluar. Tiba-tiba aku
dipanggil sama Guru kelas 4 yang sedang memberi kuis, Bu Nasriyati. Aku disuruh
menunggu dan datang ke kantor. Aku
dikasih kabar yang tak pernah aku inginkan. Saat itu aku masih belum mengerti
apa ucapan sang guru tersebut.
Akhirnya aku pulang dan ingin menanyakan
maksud kata-kata guruku sama Ibu. Aku pulang jalan kaki sendirian. Sampai di
jalan depan gang masuk rumah, tiba tiba udah rame teman-temanku. Banyak orang
juga. Jalan depan berjarak sekitar 50meter ke rumahku. Tiba tiba temenku berkata “Aaa Ayahmu gak ada, ilang, aaa”. Aku
hanya terdiam sesaat. Aku menanyakan “Maksudnya? Ayahku pulang? Yeyy”. Temenku
malah semakin berkata tak jelas yang membuatku semakin bingung. Tiba-tiba
‘uwa’ku datang, menyuruhku untuk segera
masuk rumah. ‘uwa’ku tiba-tiba memeluku sambil menangis, “nduk, yang sabar
yaah”. Karena aku yang masih kecil, aku hanya bingung dan tak tau ada apa yang
terjadi. Aku tanya pada ‘uwa’ku, “Wa, kenapa nangis? Kata temenku Ayah pulang
yah?”. Uwaku semakin memeluku lebih kencang dan menggendongku masuk.
Aku masuk melalui pintu samping, terlihat
‘uwa’ dan pamanku sedang menangis. Tapi disitu aku tak melihat Ibuku.
Tiba-tiba, pamanku memeluku sambil menangis. Lagi—lagi aku hanya terdiam,
karena tak tau apa yang sebenernya terjadi. Aku masih mengenakan sragam
identitas dan sepatu saat itu. Kakakku yang saat itu kelas 6 pun sedang
menangis bersama ‘uwa’ku yang lain. Ibuku masuk sambil menangis dengan dipapah
‘uwa’-‘uwa’ku, kulihat Ibuku seperti hampir pingsan. Badanya seperti tak mampu
berdiri. Ibuku langsung memeluku dan menangis tersedu-sedu. “Ayahmu nggak ada”,
kata ibuku. “Maksudnya Bu?” tanyaku yang belum tau apa-apa. “Kamu udah gak
punya Ayah. Ayah meninggal kecelakaan tadi pagi” Ibuku menjelaskan, walau tak
jelas karena sambil menangis keras. Aku hanya diam saat itu. Aku masih
bertanya-tanya kenapa bisa? Belum sempat aku bericara dan bertanya, Ibuku
semakin memeluku dan menangis tersedu-sedu.
Usut punya usut ternyata dari sini asal
beritanya..
Saat itu, di rumahku belum mempunyai
handphone. Setiap ingin menelfon Ayah atau kakakku pasti ke Wartel. Tetanggaku
juga belum ada yang mempunyai handphone. Nah pada waktu itu, kakakku menelfon
Pak Haji (Satu-satunya orang yang disegani masyarakat dan orang kaya) . Kakakku
memberitahukan bahwa Ayahku meninggal karena kecelakaan menabrak trotoar dengan
bajainya pagi hari tadi. Ayahku meninggal saat perjalanan menuju Rumah Sakit.
Pihak rumah sakit dan kepolisian meminta ijin keluarga buat di otopsi, untuk
mengetahui penyebab pastinya. Tapi kakakku, pamanku, dan budheku, tak ada yang
setuju. Kata mereka, karena Ayahku mengantuk saat mengemudi Bajainya. Tahun
2015 tepatnya bulan Juni kemaren, aku berlibur ke Jakarta kemaren, aku baru
mengetahui lokasi Ayahku diambil nyawanya. Saat diberi tahu oleh kakakku, aku
begitu merinding. Saat itu aku sedang dibonceng kakaku menggunakan motor.
Sore hari, saudara-saudara Ayahku yang di
Purwokerto menggunakan 1 mobil, sampai di rumahku. Malamnya tak lama keluarga
dari Jakarta sampai. Namun mobil ambulan yang membawa jenazah Ayahku belum
sampai, katanya terjebak macet. Kakaku dan pamanku berada di mobil ambulan.
Sedangkan Bu Dheku dan teman-teman Ayahku naik 3 mobil.
Aku berkali-kali keluar di pintu, melihat
siapa yang datang. Setiap mobil yang tiba, aku langsung memberitahukan Ibuku.
Ibuku semakin menjadi-jadi menangis. Bahkan berkali-kali tak sadarkan diri. Saat
aku melihat dari pintu, Bu Dheku datang dan langsung memeluku. Lagi-lagi sambil
menangiis. Langsung Bu Dheku menuju kamar bertemu Ibuku. Ibuku bener-bener
sudah tak bisa mengontrol diri, menangis, menjerit, lalu tak sadarkan diri,
bangun menangis lagi. Saat itu di kamar benar-benar sesak dan panas sekali,
karena banyak orang berkumpul untuk
menenangkan Ibuku.
Diluar rumah sampe di jalan depan benar-benar
penuh dengan orang-orag, dari anak-anak, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, semuanya tumpah
di rumahku dan di luar rumah. Seperti sedang konser. Mereka semua hanya
menantika mobil ambulns yang membawa jenazah ayahku. Sejak pagi sampai malam
itu aku tak bisa menangis. Mungkin aku masih kecil dan tak percaya. Sedangkan
kakaku hanya menangis dengan menutupi mukanya.
Mobil itu datang.
Yah mobil ambulan yang membawa Ayahku tiba.
Aku langsung berlarimemberitahukan Ibuku. Ibuku malah menangis lebih keras dan
langsung tak sadarkan diri. Akupun langsung digendong ‘uwa’ keluar. Aku melihat
kakakku dari kejauhan. Saat mobil berhenti, semua orang mendekat. Seperti
lautan manusia saat itu. Keranda Ayah dibawa masuk. Aku langsung digendong
kakakku.
Semua berebut masuk ke rumah untuk melihat
Ayahku. Aku masih digendong kakakku karena
suasananya begitu panas, dan padat manusia. Sementara Ibuku masih pingsan,
karena tau jenazahnya sudah masuk rumah. Kakaku yang tadi menangis (Ali),
keluar, ia melihat Ayah dan menangis keras. Akupun sampai saat ini belum
melihat secara dekat, karena masih banyak warga yang melihat. Lalu Ibuku sadar
dan ingin melihat Ayahku. Wargapun minggir dan memberi jalan Ibuku. Ibuku
langsung histeris menangis dan pingsan seketika. Akhirnya aku berkesempatan
untuk melihatnya dengan dekat. Aku turun
dan langsung memeluk Ayah. Akupun tak bisa menahan air mataku sekarang .
Aku bener-benar merasakan duka yang
begitu mendalam. Bahkan ketika aku ditarik untuk keluar, aku tak mau. Aku
melihat wajahnya yang sudah kaku, hidungnya terbungkus 2 kapas serta
telinganya. Terlihat darah dan luka di wajahnya. Kain kafanpun terlihat
bercak-bercak merah darah. Aku terus menangisinya sepanjang malam, sampai aku
tertidur di pelukan kakakku.
Pemakaman Ayah..
Bulan Ramadhan, bulan puasa. Jadi saat
pemakaman tak ada sncak atau minuman. Aku duduk paling depan barisan perempuan.
Aku terus melihat jenazah Ayahku. Air mataku tak lagi berhenti. Sampai selesai
dishalatkan, ditutup krenda, aku terus menangis dan melihatnya. Jenazahpun
dibawa. Kebetulan rumahku tak jauh dari kuburan. Sekitar 100meter mungkin. Aku
mengajak Ibuku untuk ikut ke Kuburan. Namun, Ibuku terus menangis dan tak
sanggup untuk ikut. Aku merengek minta ikut ke kuburan. Akhirnya aku diajak
oleh kakaku. Aku menyaksikan proses pemakaman Ayah. Saat jenazah di masukan
liang kubur, kulihat kain kafanya masih banyak berwarna merah. Mungkin luka
yang dialaminya sangat parah. Kepala, tangan, kaki dan badan penuh darah.
Selesai dikubur, kami pun memberi doa untuknya, dan masing masing melempar
tanah liat kecil sebanyak 7 kali. Aku terus menangis sampai dirumah.
Keluarga dan saudara berkumpul di rumahku
semua. Aku senang bisa berkumpul seperti ini. Namun, aku jauh lebih sedih,
karena Ayahku tak ikut berkumpul di sini. Acara tahlilan diadakan seminggu
berturut-turut. Guru-guru SD pun ikut
takziah waktu itu dan memungkapkan bela sungkawa.
Selama di kelas 4, peringkatku turun drastis.
Aku tak masuk 7 besar, namun masih 10 besar. Mungkin aku masih merasa
kehilangan atas kepergian Ayahku. (read:alesan, haha)
Beberapa tahun sudah berlalu..
Saat ini aku hanya bisa menangis ketika rindu
itu datang. Aku hanya berharap bisa bertemu walau lewat mimpi. Aku hanya bisa
bernyanyi, walau air mata di pipiku. Aku
hanya ingin melampiaskan rasa rinduku. Kini tak ada lagi kardus yang datang di
hari Senin. Tak ada lagi pelukan hangat dan canda tawa darinya. Tak ada lagi
Permen Ting-Ting yang bisa kusimpan di lemari dan kubagikan pada temanku. Tak
ada lagi, tangisan manja minta sesuatu padanya. Tak ada lagi senyum Ibuku
menantikanya pulang. Tak ada lagi hadiah-hadiah yang ku tunggu. Tak ada lagi
semuanya, terutama kau Ayah.
Kini semua, hanya tinggal sebuah kenangan
indah yang tak akan pernah aku lupakan. Liburan ke Jakarta, naik bajai,
jalan-jalan, itu adalah liburan pertamaku dan terakhirku bersama kau Ayah. Tas
Dora itu sampai saat ini masih ada, bahkan tak rusak. Boneka Panda Hitam dan
Boneka Kucing Hitam pun yang kau berikan sejak aku bayi, masih ada sampai detik
ini. Itu adalah boneka pertama yang aku punya. Walau semua kenangan itu
membuatku menangis, itu karena aku tak ingin kau hanya jadi sebuah kenangan.
Aku rindu pelukan Ayah.. Aku rindu senyum Ayah.. Aku rindu Ayah.. I love you, Dad.. Permen Tig-Ting itu kini tak
datang lagi..
Notes
: Aku menulis catatan cerita inipada hari Rabu, 19 Agustus 2015 sekitar pukul
1.00-2.30 pagi. Aku tidur jam 3 pagi. Aku sangat bahagia. Ternyata Aku bisa
bertemu Ayah, lewat mimpi. Yakin, serius ini benar-benar fakta. Aku mimpi
Ayahku pulang, dan kami mengobrol banyak hal. Bahkan di mimpi, aku sempat makan
disuapin Ayah.. Terimakasih Alloh, telah mengabulkan permintaanku.. Terimkasih
Ayah, telah datang menemuiku, walau hanya lewat mimpi.. Semoga kau selalu
tersenyum bahagia disisi-Nya Ayah..
Ini adalah kenangan foto Ayah yang aku
punya.. (sorry bures, foto udah dicetak, terus tek foto pake hp ku, faktor hape
jelek, hahaha)
![]() |
| Khotmil Qur'an bersama Ayah |
![]() |
| Akta Nikah Ayah-Ibu |
![]() |
| KTP Ayah |
![]() |
| Surat Ayah |
![]() |
| KK buatan Ayah |
Jangan lupa baca ceritaku yang lainyaa yah : http://kurniasih-mujersiti.blogspot.co.id/2015/09/aku-si-lupis.html













